Minggu, 23 Januari 2011

about asking


Pernahkah kalian punya pertanyaan dan berharap kesempatan untuk bertanya itu datang, tapi, malah sulit untuk mengungkapkannya ?
Aku pernah.
Dan rasanya, pasti ngga mengenakkan.
Tapi, apa daya ketika pertanyaan itu hanyalah menjadi sebuah pertanyaan yang tak pernah menadapatkan jawabannya?

Marcell - Mendendam

Seharian ini gue memutuska untuk 'membereskan' kamar dari barang-barang nggak penting dan nggak kepake. Seperti baju yang udah numpuk di lemari padahal gak semuanya kepake. Dimana nyokap, kakak-kakak gue komen semua tentang ini. Dipikir-pikir, iya juga sih, ngapain gue simpen barang-barang kepake? Mending disumbangin aja tuh baju, jadinya, kalo ada baju baru di lemari pun nggak apa-apa kan? :))

Dan setelah lemari beres. Beranjak ke rak yang penuh dengan barang-barang kepake. Pindah ke rak buku (lebih tepatnya novel-novel) dan mulai berpikir novel apa saja yang hilang *sigh*


raknya secara keseluruhan

My Sitta Karina Books Collection

yang ga ada :(

1. Imaji Terindah (entah dimana di salah satu sudut rumah)
2. Seluas Langit Biru (nasibnya sama kayak Imaji Terindah)
3.Titanium (emang ga beli)
4. Delapan Peri 5. Circa 6. Kumcer Pertama Kalinya 7.Skenario Dunia Hijau (lagi dipinjem)

Lalu, beranjak ke lemari di bawahnya. Tadaaaa ! Kertas-kertas hasil tulisan gue semasa SMP-SMA yang ditulis diem-diem diantara waktu pelajaran berkumpul disana. Sampe akhirnya, gue nemuin satu buku yang di salah satu halamannya ditulis oleh temen gue lirik Mendendam nya Marcell .


Jadilah gue keingetan sama nih lagu, dan langsung streaming videonya di Youtube begitu online !

(to watch the video and listen the song click here )

Ayo, siapa yang suka juga sama nih lagu ?? Ngaku ! :D

Sabtu, 22 Januari 2011

Weird (part 2)

Actually, I want to make Weird story just one part (not to be continued) in fact I get the writer block in the middle and may I blame Internet and the social network which interrupted my mood for writing ? Oh not. It my mistake who can't control it. Sorry then.

But, when I was on the bed, getting ready to sleep. I actually still can't sleep whereas I was listening to the music (my habit before sleep). Then, I remembered to my Weird stroy, and think to complete the story in my handphone notes (cause if I turn on the computer again to type the story, I just was worried it won't be done cause I'll open the social network again!)

So, here we go : The part 2 of Weird Story . The complete story :)

**

Tentu saja, aku tidak lupa bagaimana dulu kamu sangat ceria menceritakan tentang hobimu yang satu itu : sepakbola. Bagaimana seringnya kamu bermain di lapangan bersama-sama teman sekompleks dan bisa kamu kalahkan dalam setiap pertandingan.

Dan sekarang pun, suaramu yang bersemangat menceritakan kegemaranmu terus terngiang di kepalaku. Lalu, suara yang bercerita itu merambat ke hal lain. Hal lain yang saat itu sukses membuatku tak bisa menahan senyum malu-malu sekalipun di depanmu.

Ya, kamu yang bercerita tentang bagaimana dirimu menyukai seseorang dari dulu, hingga sekarang. Tentang kamu yang ternyata (belum) bisa melupakan perempuan itu sekalipun terpisah cukup lama. Semenjak SMP lulus, semenjak kalian tidak lagi sekolah di tempat yang sama. Apalagi, perempuan itu ternyata memutuskan untuk SMA di Bandung. Jauh dari hiruk pikuk Ibukota, jauh dari dirimu.
Lalu, kalian dipertemukan tidak sengaja ketika reuni SMP digelar.
Dan selanjutnya, aku tahu bagaimana cerita itu berlanjut. Karena jelas-jelas perempuan itu adalah aku.
Awalnya, aku berusaha untuk tidak terpengaruh ceritamu. Menyangkal bahwa perempuan yang kamu maksud adalah aku. Tapi, begitu kamu menatapku penuh arti lengkap dengan senyuman itu ketika bercerita. Bagaimana mungkin aku menyangkalnya lagi? Jelas-jelas kamu bercerita seperti itu karena menginginkan aku tahu apa yang kamu pikirkan, apa yang kamu rasa selama ini. Sesuatu yang ternyata belum berubah semenjak hampir empat tahun yang lalu.
Bagaimana pula aku ingin menyangkal kenyataan manis itu? Apalagi ketika aku sadar, bahwa apa yang kamu tawarkan itu bukanlah sesuatu yang biasa. Bahwa aku terlalu bahagia mendapati kenyataan itu.

**

Tapi kemudian, sms ,telepon-telepon itu hilang. Awalnya, aku menyangka kamu terlalu sibuk dengan segala persiapan ujian saringan masuk universitas. Hingga akhirnya, aku rajin mendatangi lapangan hijau di sabtu dan minggu pagi serta sore hari. Apakah kamu ada disana, atau tidak. Aku beralasan datang untuk mengantar adikku yang masih SD saat itu untuk bermain bola ketika teman-temanku bertanya apa gerangan aku kerap mendatangi lapangan.
Satu bulan berlalu. Tanpa hasil. Tanpa apa-apa.
Diriku pun merasa terlalu gengsi untuk menghubungi dirimu duluan karena sempat beberapa kali, reaksi mu datar, sangat datar malah. Membuat hatiku terusik. Apakah kamu tidak menginginkanku lagi? Apakah rasa itu terlalu lama hinggap di hatimu, hingga ketika tersiram sesaat malah langsung mati?
Yang jelas, aku terlalu khawatir dan takut pada kemungkinan-kemungkinan buruk yang berujung pada kata 'perpisahan'.
Hingga akhirnya, salah satu temanku yang juga temanmu, yang cukup mengetahui bagaimana kisah kita berjalan , berkata padaku.
"Garry ngga akan datang main bola ke lapangan ini lagi, By. Kamu gak perlu lagi nunggu dia disini. Karena dia kuliah ke Jerman. Beasiswa. Mungkin, tiga sampai lima tahun nggak bakal pulang ke Indonesia."
Aku terdiam. Terlalu mengejutkan berita itu datang padaku. Terlalu jelas. Dan...terlalu menyakitkan.
"Wow." itulah reaksi yang keluar dri mulutku, refleksi dari keterkejutan yang kurasa. Aku masih diam, mencerna setiap kata yang ku dengar dari Derby. Kenapa semuanya jadi tiba-tiba cepat datang dan malah menyakitkan? Memang yang aku inginkan adalah kabar Garry. Tapi....rasanya bukan kabar seperti ini yang kupanjatkan dalam doaku.
Aku terhenyak. Menyadari ada yang aneh. Ada yang salah. Lalu,aku pun berjalan cepat pulang ke rumah setelah mengucapkan terima kasih pada Derby. Meninggalkannya yang terlihat merasa bersalah karena terlalu lama menyembunyikan berita ini dan juga ikut merasakan bagaimana luka ini dibuat oleh dirimu terlalu dalam.

**

Bukan.
Aku yakin sakit ini ada bukan karena aku terlalu iri bahwa dirimu mendapatkan apa yang aku impikan sekaligus tidak aku dapatkan dua bulan yang lalu. Beasiswa ke Jerman.
Tapi, ini jauh lebih dari itu.
Ini tentang bagaimana aku merasa dianggap tidak ada. Tentang bagaimana aku merasa terlalu ditinggalkan oleh dirimu. Tentang aku yang merasa, tidak terlalu spesial untuk mendapatkan kabar gembira itu dari dirimu langsung.
Bahkan,aku mendapatkan berita itu dari orang lain yang tidak terlalu dekat denganku. Bukan dari dirimu langsung yang bersangkutan, dari orang yang sudah mulai memasuki kehidupanku lebih jauh dan mengisi hari-hariku.
Padahal, enam bulan ini sudah kita jalani terlalu 'unforgottable' (aku kira) Nyatanya, semuanya kamu lupakan dalam beberapa bulan. Setelah kita dekat, kamu pun menghilang begitu saja. Ini balas dendam darimukah karena aku yang memutuskan untuk SMA di Bandung tiba-tiba padahal kita sedang dalam penjajakan juga masa itu?

Haruskah bagimu hal itu berulang, Garry? Haruskah aku merasakan kehilangan yang kamu rasa dulu?
Jika memang ini yang kamu mau, jika memang ini harga yang harus aku bayar supaya bisa mengukir lagi kenangan-kenangan yang lebih indah denganmu. Aku terima.

Tapi, hingga saat ini kabar belum ada sama sekali darimu. Padahal, nomorku tidak berubah, kapan saja bisa kamu hubungi. Nama akun FB ku pun nama asli, bisa kamu search dan 'add as a friend' kapan saja lalu mengirimiku message.
Tapi ternyata, tak satupun kabar darimu ku dapat.

Lalu, dua tahun pun berjalan tanpa kabar darimu.
Hanya aku dan kenangan tentangmu yang mengisi kehilanganku.

**
Dan sekarang, kamu berada disana. Menjadi salah satu pemain di lapangan hijau itu, bermain dalam tim yang sama dengan adikku. Membuatku jadi agak ragu untuk tetap datang ke lapangan ini karena takut semua yang sudah aku kubur rapih di hati ini kembali menguap. Memporak-porandakan semua pertahanan yang sudah ku atur rapi di dalam hati dan otak ini.
Tapi kemudian, setelah permainan selesai kamu malah berjalan ke arahku yang (masih) pura-pura tidak melihat atau bahkan mengenalimu. Hingga kamu duduk di sampingku, lalu menyapaku dengan senyummu.
"Halo Abby. Apa kabar?"
Aku terlalu senang melihatmu. Hingga hanya diam menatapmu sambil menutup buku perlahan. Lalu tersenyum kecil. Aku terlalu bahagia bisa menatap wajahmu lagi, merasakan damainya senyum itu, mendengar cerianya suaramu.
Hingga luka itu perlahan menutup lagi. Aku tahu, kamu bukannya merasa tidak bersalah dengan dua tahun yang berlalu. Aku yakin, kamu punya alasan atas semuanya. Dan kali ini, aku akan mendapat jawaban pasti yang tidak pernah ku dapat selama dua tahun ini.
Maka, aku pun menyambut lagi apa yang kamu tawarkan dulu dan berusaha kali ini berujung kebahagiaan.
Semoga.

( 12:05 AM , 230111, @my room, Kp.Rambutan,Jakarta Timur )

Weird


Back to my hobby, writing.

After college, study stuffs seize my time, my spare time, my hobby like writing, and watching Films :) I;m enjoying my new rutinity (really!) although I have to lose and miss all my entertaiment ! But it's okay. I take it as my responsible for my choose. Studying Industrial Engineering which is not easy as people now. And in fact it did. Being Industrial Engineering Student not easy but not too hard too. Cause I think, I've choose Industrial Engineering and has known at first how is it will be going and killing my time. But, I'll enjoy , and lead it as well as I can. Cause it's my choice! :)

Then, holliday comes after Final Exam done. And, I use it to back to my hobby, writing. Which is be my another future dream :)
And I've registered for Nulis Buku Event : Nulis Buku First Chapter Club . And hope it will be my another experience in writing world.

Here, I wrote a story, ehmm, no, actually, it just someone expression. I write this cause has inspired by Novel Online 28 hari by @ndorokakung and @beradadisini ( to read the novel online clik here ) the novel, the word in was such great combination. it represent someone feel and I think,it really far from 'Galau' :)

***

Lagi-lagi, aku berada disni. Di depan hamparan rumput hijau yang ramai di penuhi oleh anak laki-laki mulai dari ABG hingga anak kuliahan sepertiku. Sayangnya, aku perempuan dan tidak begitu tertarik pada permainan sepakbola ini. Aku hanya sebatas mengagumi dan suka menonton saja.

Alasannya?

Pertama, jelas karena olahraga ini sangat digemari oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Hingga aku terbawa suasana untuk ikut menggemarinya. Kedua, karena ternyata, sepakbola lah yang menjadi penghubung antara aku dengannya.

Alasan lain aku selalu mendatangi lapangan hijau yang berada di perbatasan kompleksku dengan kompleks sebelah adalah menemani adik ku yang baru menginjak bangku kelas dua SMP bermain. Tentunya, pada umurnya itu Ray, adikku, sebenarnya tidak mau ditemani hanya dengan alasan Mama yang takut anaknya kelayapan malam atau diganggu oleh remaja lain yang ‘liar’. Tapi mau tidak mau, perintah Mama menyuruhku untuk menemaninya harus ditaati jika ia masih mau bermain setiap sore disni. Dan aku? Terjebak di keramaian sore hari lapangan hijau, dengan buku ditanganku. Buku-buku politik serta hukum yang harus ku ‘lahap’ sebagai mahasiswai semester tiga jurusan Hubungan Internasional.

Aku juga tidak terlalu keberatan dengan keinginan Mama ku yang satu ini. Karena nyatanya, sore hari benar-benar waktu kosongku jika tidak ada kuliah.

Maka, inilah rutinitas baruku. Tiap sore di pinggir lapangan hijau ,menemani adikku yang bermain sepakbola dengan buku.

Hingga suatu hari, aku melihatnya. Menjadi salah satu pemain di lapangan hijau itu, bermain dalam tim yang sama dengan adikku. Membuatku jadi agak ragu untuk tetap datang ke lapangan ini karena takut semua yang sudah aku kubur rapih di hati ini kembali menguap. Memporak-porandakan semua pertahanan yang sudah ku atur rapi di dalam hati dan otak ini.

**
(to be continued ...)



Dear 'Simon' (again)

"Seandainya kita tidak perlu menyembunyikan rasa yang kita punya, dan cukup berani untuk menamainya cinta, mungkin ..ada lebih banyak lagi kenangan yg bisa kita simpan. Tetapi kita tdk akan pernah tahu. Kamu terlanjur pergi meninggalkanku "
#28hari (novel online by @ndrokakung @beradadisini )

Jumat, 21 Januari 2011

Maliq & D'Essentials - Coba Katakan


coba coba katakan kepadaku bahwa kita sedang berjalan menuju satu alasan,
janganlah kau katakan bila kita memang tak ada tujuan, dari apa yang dijalankan,

aku tak ingin terus terdiam memandangi harapan,
terlena akan manis cinta dan berujung kecewa,
aku tak ingin terus menunggu sesuatu yang tak pasti,
lebih baik kita menangis dan terluka hari ini..

coba coba katakan kepadaku sekali lagi bila kita memang benar akan kesana,
buktikan dan buat aku percaya bahwa kita bisa, mewujudkan bahagia,

aku tak ingin terus terdiam memandangi harapan,
terlena akan manis cinta dan berujung kecewa,
aku tak ingin terus menunggu sesuatu yang tak pasti,
lebih baik kita menangis dan terluka hari ini..

ohh.. oh.. habis sudah semua rangkai kata..
telah terungkap semua yang kurasa..
yang kuingin akhir yang bahagia.. hoo..

aku tak ingin terus terdiam memandangi harapan,
terlena akan manis cinta dan berujung kecewa,
aku tak ingin terus menunggu sesuatu yang tak pasti,
lebih baik kita menangis dan terluka..

aku tak ingin terus terdiam memandangi harapan,
terlena akan manis cinta dan berujung kecewa,
aku tak ingin terus menunggu sesuatu yang tak pasti,
lebih baik kita menangis dan terluka hari ini..

wohoho.. dudududu…
wohoho.. dudududu…

yang ku inginkan..
satu tujuan..
sebuah kenyataan..
bukan impian..
bukan harapan..
bukan alasan..
satu kepastian..

coba katakan..
coba katakan..
coba katakan..
coba katakan..




(I give this song, this video to you, Simon, this (really) represent US, our story. How we going this (weird) relationship. How we met, then separate without a real reason(from my view). Then meet again, and rebuild all that has been buried. How I wish you would give me a reason for those pain you gave me this 2 years. Would you give me a second chance for fix the problem we have(if this cause of my mistake) ? )


Kamis, 13 Januari 2011

Wanna say something but I can't say it loudly, and feel like this song represents what I fell :|

Seberapa Pantas - Sheila On Seven

Seberapa pantaskah kau untuk kutunggu
Cukup indahkah dirimu untuk selalu kunantikan
Mampukah kau hadir dalam setiap mimpi burukku
Mampukah kita bertahan di saat kita jauh

Seberapa hebat kau kubanggakan
Cukup tangguhkah dirimu untuk slalu kuandalkan
Mampukah kau bertahan dengan hidupku yang malang
Sanggupkah kau meyakinkan di saat aku bimbang

Celakanya hanya kaulah yang benar-benar aku tunggu
Hanya kaulah yang benar-benar memahamiku
Kau pergi dan hilang ke manapun kau suka


Celakanya hanya kaulah yang pantas untuk kubanggakan
Hanya kaulah yang sanggup untuk aku andalkan
Di antara pedih aku slalu menantimu

Mungkin kini kau t'lah menghilang tanpa jejak
Mengubur semua indah kenangan
Tapi aku slalu menunggumu di sini
Bila saja kau berubah pikiran

Selasa, 11 Januari 2011

Dear 'Simon'



Percayakah kamu, aku selalu berusaha untuk tegar selama ini?
Mungkin, melupakanmu tidak terlalu sulit (saat itu) tapi, ketika aku sudah berhasil menghapusmu dari ingatan. Menganggapmu tidak mau lagi kembali. Tapi tahukah kau, aku selalu bertanya 'kenapa'?

Mungkin salahku yang terlalu bodoh saat itu. Mungkin aku yang terlalu menganggapmua 'angin' saja. Mungkin, aku yang terlalu naif dengan semua.

Karena aku masih bingung dengan semua yang terjadi 'tiba-tiba'?

Dengan kita yang tiba-tiba kembali bertemu setelah lama berpisah.
Dengan kita yang tiba-tiba menjadi terbiasa berhubungan. SMS, telelpon-telepon itu.
Dulu aku tidak curiga dengan apa pun, dan berpikir kalau semua adalah TAKDIR. TApi ternyata, masih ada hal lebih besar yang berada di baliknya.
Kita tiba-tiba bertemu, dan kemudian, tiba-tiba berpisah juga.
Begitu cepatnya hubungan itu terjalin, tapi cepat juga perpisahan itu datang.
Bahkan sebelum aku yakin, bahwa aku telah mengenalmu lebih jauh.

Percayakah kau, aku masih berada dalam penasaran yang amat sangat?
Semakin banyak aku menemukan kemungkinan-kemungkinan, semakin banyak aku dirundung pertanyaan lainnya.

Sikapmu mungkin masih sama, tapi.. reaksi berbeda.
Aku (merasa) berhasil ketika bayanganmu tak lagi menghantui ku. Ketika aku sadar, bahwa kamu memilih pergi. Berusaha sekuat mungkin melakukan hal sama yang kau lakukan.
Tapi, ketika kemarin kamu kembali muncul, sekejap, segala pertahananku terasa hancur.
Seketika aku flashbacked. Antara ingin bertemu denganmu lagi, antara tidak.
Antara ingin mengulang semuanya, tapi di sisi lain merasa takut yang ku dapat sama seperti dulu. Kehilangan.

This love no reason.

Haruskah aku menyerah saja kali ini ?


when too tired to hold on....

"Terkadang kamu harus meninggalkan orang yang kamu cintai, bukan karena kamu menyerah,namun krena kamu telah lelah berusaha sndiri" #pepatah

mention from my friend, Chika Agnia

Minggu, 02 Januari 2011

New Year Eve's Story

Selalu ada cerita setiap tahun baru. Tahun baru 3 tahun terakhir ini punya cerita dan makna masing-masing.

Tahun baruan 2009 : was about love :') tapi bukan sesuatu yang bisa diceritakan dengan bahagia, sumringah ataupun deg-degan.
waktu itu jam 2 pagi, sudah lewat acara tahun baruan di rumah, kali itu, tahun baruan kumpul-kumpul keluarga kayak biasa. Bakar-bakar ayam, jagung, ikan. Nonton acara teve bareng dan ngobrol-ngobrol. Kumpul sekeluarga tiga generasi, dari generasi bokap (generasi pertama) generasi gue dan sepupu2 (generasi kedua) juga generasi keponakan-keponakan yang berumur 0-7 tahun (generasi ketiga). kebanyakan dari generasi ketiga yang udah tidur. Generasi pertama, nyokap dan sepupu-sepupu bokap(yang kebanyakan cewek) masih pada ngerumpi di balkon. Entah apa aja yang diomongin, mungkin anak-anak yang ternyataudah beranjak dewasa (seperti gue) membuat mereka merasa kehilangan dan juga semakin tua? Generasi kedua pada sibuk berebutan main komputer, tepatnya internet, saat itu masih jamannya Friendster. Masing-masing sibuk berebutan pengen buka akunnya. Awalnya gue ikutan, tapi akhirnya, gue memilih untuk turun, duduk di ruang tamu, baca novel, Maryamah Karpov -nya Andrea Hirata ditemani martabak keju favorit. Di tengah-tengah membaca hape berbunyi, miscall dari private number.
Saat itu, gue belum sadar apa yang akan terjadi, gue ngga tahu apa yang akan terjadi. Dan maaf, gue ngga mau posting ceritanya dengan detail di sini. Cukuplah cerita itu jadi file pribadi yang di kubur di sudut hatu paling dalam. Supaya susah untuk membukanya kembali.
Saat itu, gue masih belum mengerti dengan hati gue sendiri. Gue masih terbilang sangat 'labil' dan 'ABG' untuk mengerti cinta, yang gue tahu hanyalah deg-degan, bahagia , senyum itu ada ketika dapat SMS , telepon atau juga comment FS darinya. Yang pasti, segala bahagia serta deg-degan menyerang ketika berhubungan dengannya.
Tapi , bahagia aja sepertinya ngga bisa menjelaskan tentang perasaan. Karena pada kenyataannya, yang namanya urusan hati ngga mentok sampe situ aja. Ngga mentok cuma sekedar tentang bahagia, kesal, atau sedih. Karena masalah-masalah, pertimbangan-pertimbangan pasti muncul saat itu.

Dan dengan dia, gue sulit untuk membedakan mana sayang, mana obsesi.

Tahun baruan 2010 : was about learning a life. PPM (semacam KKN) di Majalengka. Malam panggung gembira sbg perpisahan, learn a lot from people there
Gue kelas 6 TMI saat itu, dan mengharuskan gue untuk ikut kegiatan PPM (Praktek Pengabdian Masyarakat) selama dua minggu di Majalengka. Awalnya agak bete-bete, tapi lama kelamaan enjoy. cause seriously, we got a lot of fun there !

Tahun baruan 2011 : was about quality time w/ family. rumah rame,nonton kembang api dari lantai 2 rumah, dan.. lahiran keponakan baru :)

Siang harinya,gue masih jalan-jalan ke PIM. Nonton Love in Perth sama temen gue, Chika . Sampe sore, dan sekitar maghrib gue baru pulang. Nyampe-nyampe rumah, rumah udah rame sama sodara yang berdatangan. Dan gue pun langsung bantuin teteh gue untuk masak steak resep dari suaminya yang rasanya seger karena ada asem-asem dari lemon gitu :D
Rumah pun rame dengan anak kecil dan masakan yang banyak.
Sampe tengah malem, jam 12 teng, tambah rame sama ledakan-ledakan kembang api yang banyak banget dan enaknya, bisa ditontondari lantai 2 rumah :D ada yang dari RW sebelah lah, Taman Mini, RT sebelah, banyak deh, ada sekitar lima-tujuh titik yang jadi titik kembang api muncul.
Dan sampe saatnya, kita dapat kabar kalo Teh Ana, udah pecah ketuban dan langsung dibawa ke Rumah Sakit Harapan Bunda waktu pulang dari rumah nyokap ke rumahnya. Proses persalinan terbilang cepat, setengah-satu jam. Kilat pokoknya ! Pas lahirpun masih banyak kembang api yang meledak-meledak.
Dan si jagoan pun lahir jam 00.50 WIB sudah memasuki tanggal 01-01-11 :D



Semoga, kisah Tahun Baruan kalian lebih wonderful yaa? ;)