Minggu, 05 Februari 2012

Genggaman Tangan

"Elo...mau pergi ke mana?"

Ia bertanya ketir ketika aku benar-benar melangkahkan kaki untuk beranjak dari tempat itu. Setelah aku mengancamnya untuk 'pergi'.

"Ke manapun. Selama gue nggak bisa lihat muka elo lagi, Ga."

"Tapi, Rin..." Ia masih berusaha menahanku dengan kata-katanya, "apa harus kita kayak 'gini'?"

Akhirnya, aku kembali berbalik. "Kenapa kita nggak bisa, setelah sekian lama?"

Raga. Lelaki yang berdiri hanya 2 meter di hadapanku terdiam. Ia sadar tentang keputusasaan dan kesabaranku yang sudah diambang batas.

Aku ingat, tempat ini pun - suatu sudut di lorong kampus - adalah tempat di mana aku dan dia saling megucap cinta. Mengucap janji yang tanpa berbuah sebuah ikatan. Ikatan yang tak akan pernah ada selama Raga masih dalam ikatan dengan kekasih yang ia cinta sama-sama kuat denganku.

Sebenarnya, aku kurang yakin dengan perkataan Raga. Aku skeptis dengan Raga yang mengatakan bahwa cintanya kepada kekasihnya dan diriku sama-sama kuat.

Namun, keraguan pun hilang karena aku mencintai lelaki ini. Mungkin lebih dari yang kekasihnya bisa berikan. Itu kataku. Kata sebagian besar diriku yang mencintainya.

Walaupun, itu sudah terjadi 3 tahun yang lalu. Dan Raga tak pernah mengucap cinta yang sama setelahnya. Aku tidak tahu, apakah hati Raga masih sama atau tidak.

Namun, jika tidak. Lalu apa arti waktu yang kami habiskan selama 3 tahun ini bagi lelaki itu? Kenapa ia masih bertahan di sampingku?

Aku mencintai Raga memang benar. Tapi, terus menerus menyerahkan hatiku terikat dengan Raga di bawah nama sahabat selama 3 tahun ini tanpa benar-benar mengaku cinta - Raga memutuskan hubungannya dengan kekasihnya. Membuatku lelah. Aku tak mau menyerahkan hatiku lebih lama.

Semua ini ada batasnya. Dan selama 3 tahun, aku tidak pernah melihat batas itu. Namun akhirnya ia muncul di hadapanku.

Hatiku terlampau kacau kali ini. Terlampau diobrak-abrik oleh cintaku pada Raga.

Aku kembali berbalik dan kembali melangkah. Namun, baru dua langkah berjalan. Tiba-tiba Raga menarik tangan kananku ke dalam genggamannya. Memaksaku untuk berbalik dan menatapnya.

Matanya yang tajam - yang selalu mampu membuat sistem tubuhku lemas dan tak berkekuatan - menatap tepat ke mataku yang sendu. Refleksi hati yang lelah untuk berpura-pura lebih lama.

"Stay with me, please, Karin... Stay with me..." Raga berbisik sambil.

"3 tahun ini udah terlalu lama, Ga... Udah terlalu lama..."

"But I will not let you go..."

Raga menggenggam tanganku dengan eratnya. Dengan penuh kasih sayang dan takut kehilangan - kalau boleh aku menamakannya dengan penuh percaya diri.

Dan aku kembali lemah. Terkuai oleh kasih sayang yang Raga salurkan dalam genggaman ini. Berbeda dengan sebelum-sebelumnya.

Kali ini penuh kesejukan yang menjalari hatiku yang mulai panas karena kesal dan lelah. Hati ini pun kembali teduh.

Dan dalam genggaman tangan Raga, aku tenang.

Kamis, 02 Februari 2012

Your Eyes

Teruntuk,
Seseorang yang memiliki mata indah dan tajam.
Membuat yang menatap terhanyut, tak ingin pergi, dan terjebak.
Sekalipun menimbulkan gugup luar biasa.
Bukan karena takut.
Tapi karena maat itu begitu indah.

**

Pada suatu pagi di pertemuan pertamaku dengan orang-orang asing. Aku langsung melihat sosok itu. Lengkap dengan sinar cahaya yang berkilauan di matanya. Dan aku terpana.

Cahaya dalam mata yang tajam itu, seolah menjadi jembatan antara jiwa manusia dengan semangat dan kebahagiaan yang siap dijemput oleh seluruh jiwa. 1 detik menatapnya, membuatmu terpana. 3 detik menatapnya, membuatmu tak ingin ke mana-mana dan menginap di sana. 5 detik menatapnya, menghangatkan hati dan kau bergairah untuk melakukan apapun, bersemangat untuk apapun. Lebih dari 5 detik dan berkali-kali, membuatmu ingin memiliki-nya.

Tebaklah, di mana posisiku?

Ya, antara 5 dan lebih dari 5. Bukan hanya beberapa kali. Namun ribuan.

Satu kali menatapnya, langsung membuatku betah berlama-lama di sana. Dan beberapa kali menatapnya lebih dari 5 detik. Ternyata membuatku ingin memlikinya. Mata itu dan pemiliknya.

Namun, sudah lebih dari 500 hari kita kenal dan berteman. Aku tak pernah memilikinya.

Ah, apakah itu karena kau tahu bahwa yang kuinginkan adalah mata itu? Mata dengan segenap sinar cahaya yang terkumpul di sana? Karena seringkali kau memergokiku yang sedang menginap di sana dan terjebak. Bukan tak bisa keluar, namun tak ingin.

Namun, kini ke mana cahaya itu? Cahaya yang mampu menggerakkan semangat dan ceriaku. Ia mulai meredup dari hari ke hari semenjak hari ke-500 pertemuan kita. Ia pun menjadi kelam dan mulai mengerikan untuk ditatap. Sengajakah ia menyembunyikan cahayanya agar tak lagi kulirik?

Dan pada senja hari, tepat ketika matahari hendak kembali ke peraduannya. Aku melihatnya berdiri di taman kampus.

Matanya tertutup. Tangannya memperlihatkan gerakan aneh di depan matanya. Berputar-putar dan melambai-lambai, lalu tampak seperti menggenggam sesuatu. Tangan kokoh itu pun membuka genggamannya ke arah depan. Kemudian, ada kilauan yang keluar dari sana. Semula sangat terang namun lama kelamaan meredup dan tak terlihat.

Lalu ia menghela napas. Menatap udara tempat kilauan tersebut pergi jauh untuk kembali ke tempat asalnya. Matahari yang mulai oranye di atas sana.

Ah, ternyata cahaya itu dari sana. Dan kamu telah mengembalikannya untuk selamanya.

Karena esok paginya, aku tak lagi melihat apa-apa di mata itu.

Rabu, 01 Februari 2012

Lampu Merah


Pernahkan kamu mencintai dalam diam dan terpana ketika menyadari cinta itu sudah bertahan lama tanpa disadari?


Cinta dalam diam itu memang tidak pernah disapa oleh sang objek. Ada bahagia memang. Tapi itu bukanlah semacam bahagia yang ada sebagai cinta berbalas.


Dan cinta diam-diam itu pun terselubung oleh sebuah nama persahabatan. Suatu fase pelarian ketika cinta bukan alasan utama untuk bersama.


Aku pernah.


Tidak, aku pernah dan sedang menjalaninya. Kepada dan bersama lelaki yang berjalan bersamaku di pinggir jalan raya. Suatu jalan raya dekat kampus. Suatu jalan raya yang hanya berjarak beberapa meter dari lampu merah yang padat dan bising.


Aku tidak akan melupakan senja itu. Suatu senja di mana aku menyadari bahwa cinta masih bertahan hingga ratusan hari. Membuatku takjub.


Walau dalam ratusan itu, terdapat nyeri dan bahagia yang terus berganti. Ia memberiku seribu rasa dan makna baru setiap harinya.Membuatku tak pernah berhenti bertanya. Kenapa cinta ini dapat bertahan?


"Gue sendiri aja," potongku cepat melihat gerakan tubuhnya yang akan ikut maju untuk menyebrang denganku.


"Eh," ia menoleh kaget karena penolakanku, "nggak apa-apa nih?" tanyanya sangsi.


Aku mengangguk. "Serius. Elo kan mesti ngejer bisjuga," kataku sambil melihat jalan raya di depan, "duluan ya," pamitku sambil setengah berlari ketika jalanan mulai sepi.


Ada kecewa ketika ia tak memaksa. Ah, dasar perempuan selalu plin-plan dan munafik. Sudah ditawari tapi menolak. Ketika dituruti malah kesal. Aku menyalahkan egoku sebagai perempuan yang ingin dilindungi.


Aku pun memutar badan ketika sudah sampai di seberang. Dan langsung terpana ketika melihat sosok diseberang sana yang kutolak tawarannya semenit lalu tidak bergerak ke manapun. Ia masih diam di sana memandangi langkahku menyebrang.


Di antara lalu lalang mobil dan motor di lampu merah yang ramai dan bising. Aku masih bisa melihat ia yang tersenyum dan melambaikan tangan ketika mata kami beradu. Memastikan perempuan yang berjalan bersamanya selamat menyebrang.


Setelah aku membalas lambaian dan senyumannya. Samar aku melihat bibirnya bergerak mengeja sebuah kalimat. Dengan jarak puluhan meter jauhnya, aku membutuhkan puluhan detik untuk mencerna maksud gerakan bibirnya.


Lalu, dadaku pun sesak oleh bahagia. Haru.


Aku balas tersenyum sambil mengangguk. Tak ada kata yang keluar dari bibirku. Hanya anggukan dan senyuman untuk membalas ucapannya, "Hati-hati ya..."


Sepele memang. Bukankah sudah seharusnya lelaki seperti itu terhadapa wanita? Tapi melihat senyum dan lambaian tangannya sungguh merontokkan kesalku.


Sekarang, aku tahu kenapa mencintai lelaki itu dan tidak pernah berubah.


Karena ia memang patut untuk dicintai.


***


Untuk,

seseorang yang (mungkin) tidak akan pernah sadar tentang kehadiran cinta.

Terima kasih untuk 480 hari ini.


Senin, 30 Januari 2012

Hati yang Kembali

Kita sudah menghirup udara yang sama, Sayang. Apakah cinta dan rinduku telah sampai melalui setiap oksigen yang kauhirup?

Kamu mengeja setiap kata itu dengan lembut. Melalui jaringan telepon seluler yang cukup baik untuk menyampaikan kabar baik itu. Kedatanganmu di Jakarta siang hari yang sayangnya aku tidak bisa menjemputmu karena meeting penting dengan jajaran direksi perusahaan tempat aku bekerja.

Dan kalau tidak salah dengar, ada getar tersembunyi di setiap kata yang kauucapkan.

Getar hebat yang berusaha kau sembunyikan agak tak sampai di gendang telingaku dan menyampaikannya ke otak. Namun kau gagal. Getar itu sampai ke otakku dan menghasilkan gelombang yang aneh dan tak menentu ke hati.

Kepulanganmu dari sebuah negeri di benua Eropa itu tidak hanya menciptakan kebahagiaan bagiku. Tapi resah ikut bersamanya.

Kepergianmu sudah lebih 3 tahun, Sayang...

Aku sadar, pasti akan banyak perbedaan yang terjadi dalam hidup kita. Bahkan, diri kita sendiri. Aku tidak berharap bahwa kamu tetap seperti dulu. Tapi tolong, satu itu saja yang bertahan dan tetap. Hatimu.

Jangan kau ubah untuk siapapun. Untukku saja ya?

Aku tidak meminta miniatur eiffel yang kaujanjikan. Tidak juga branded things asal Paris sebagai oleh-oleh yang kautanyakan kepadaku melalui jaringan telepon.

Aku hanya meminta kau membawa kembali hatimu yang dulu kaubawa untuk menjelajahi dan belajar di kota romantis itu. Cukup. Bawa saja ia kembali dalam bentuk dan arti yang sama ya?

Tapi ternyata, kau membawakanku satu cinderamata yang kauberikan di pertemuan pertama kita. Benda itu indah memang. Namun, menggenggamnya sekalipun tidak kuat menciptakan perih. Tubuhku pun bergemetar mengetahui makna dibalik pemberian hati ini.

Miniatur hati dari kerang berwarna abu-abu–yang tidak kuketahui jenisnya. Ada sebuah tulisan yang ternyata kau tulis di hati itu.

Ini adalah hatiku yang dulu kubawa pergi. Sudah kuberikan padamu ya?

Aku terdiam. Tetap berdiri di tengah keramaian taman kota. Menatap punggungmu yang semakin menjauh dari hadapanku setelah mengucapkan kata perpisahan dan permintaan maaf. Lalu, pandanganku turun ke bawah. Tanganmu yang menggenggam tangan kiri di mana sebuah cincin berlian melingkar di jari manisnya.

Jumat, 06 Januari 2012

Memuja.

Aku menghirup aroma kuah mie instan yang menguap.

Kali ini dengan penuh nikmat, tidak lagi dengan rasa cemas seperti dulu. Kali ini aku tidak lagi memedulikan fakta bahwa mie instan tidak baik bagi kesehatan. Mengacuhkan peraturan kesehatan padahal aku adalah salah satu dokter muda lulusan dari universitas negeri terkenal.

Aku juga lagi tidak memedulikan tentang asap tembakau yang biasanya kubenci – setengah mati. Namun, ada beberapa saat di mana aku tidak memedulikan hal-hal yang kubenci. Seperti mie instan dan rokok.

Saat itu adalah di mana ia berada. Semua yang kubenci selalu mengumpul di satu tempat yang kupuja. Kucinta.

“Sejak kapan kamu mau makan mie instan?” kamu bertanya lengkap dengan kerutan di dahinya ketika aku ikut memesan mie kuah instan di kantin kampus. Menemanimu melahap mie dan kuahnya yang menguap di tengah dingin malam selepas praktek kami beberapa tahun lalu.

“Sejak tahu kamu suka makan mie instan.”

Dan kamu hanya tertawa mendengar jawabanku. Menganggapnya konyol.

Lalu akhirnya kamu menyesap perlahan tembakaunya setelah isi mangkok kaulahap cepat. Mengacuhkanku yang kesulitan bernapas dan mengibas-ngibaskan tangan untuk mengusir kepulan asap dari wajah.

Sejatinya, aku tidak merasa terganggu karena sikapmu yang merokok di hadapanku padahal kautahu aku membenci tembakau karena selalu membuat sesak pernapasan dan kenyataan bahwa perokok pasif malah lebih berisiko terkena penyakit daripada pelakunya sendiri.

Namun, kali ini aku membenci rokok untuk alasan yang berbeda. Kenapa rokok yang selalu menjadi tempatmu ‘pulang’ ketika letih dan penat? Kenapa rokok yang menjadi tempatmu berlabuh?

Kenapa kamu tidak berlabuh kepadaku saja, Sayang?

Aku bertanya di malam itu, malam yang membuatku resah namun menikmati. Setelah menyadari kehadiran debar yang tak seharusnya. Dan memutuskan ikut menikmati saja. Termasuk mie instan dan asap tembakau.

Aku tidak mengingkari. Aku hanya tak ingin ada yang merasa tersakiti. Termasuk hatiku sendiri. Karena aku sadar, akhir dari semuanya adalah – kita hanya akan saling menyakiti karena kepercayaan masing-masing.

Walau akhirnya, beberapa bulan setelah malam itu kita tetap memutuskan untuk melupakan segalanya. Tentang status dan aturan-aturan mutlak yang tak pernah boleh dan bisa dilanggar. Dan tetap mengucap cinta. Lalu berkecupan mesra di bawah rintik hujan. Tempat di mana aku dapat menyembunyikan isak. Tangis karena khawatir.

Karena aku tahu, sekalipun kita saling menyayangi dan melewatkan ratusan hari bersama. Namun roda hubungan kita tidak akan membawa kita berpindah tempat. Ia hanya berputar di tempat. Tidak membawa kita ke mana-mana. Kamu pun tahu itu bukan, Sayang?

Lalu, kenapa kamu tetap mengeja cinta kepadaku?

“Aku mencintaimu, Sharina.” katamu di satu malam seusai menonton bioskop.

“Kamu hanya salah sangka pada hatimu sendiri,” elakku cemas.

Lalu kau malah menggeleng kuat dan meyakinkanku. Aku pun tahu kamu sebenarnya cemas bukan?

“Hentikan, Than. Kamu tahu kan aku nggak mau mengkhianati-Nya?”

“Lalu, kamu akan mengkhianati hatimu sendiri?”

Aku terpekur. Menatap matamu yang menguarkan kecemasan di bawah campuran sinar rembulan dan temaram lampu halaman rumahku.

Aku membodohi diri sendiri. Membodohi aku yang terpesona pada lelaki yang sedang menggenggam tanganku. Siap merengkuh tubuh mungil ini ke dalam pelukannya untuk melenyapkan resah.

Lalu, akhirnya aku menyerah. Menyerah karena pesona Nathan dan cintaku. Aku tak siap untuk kehilangan hari-hari penuh warna denganmu. Perasaan ini masih terlalu kuat untuk ditolak.

Padahal, seharusnya aku sadar bahwa menyerah bukanlah kata yang tepat. Karena sampai kapanpun tidak akan ada yang berubah.

Kita memang saling memuja. Aku memujanya dan kau pun memujaku. Sayangnya, kita tidak memuja Tuhan yang sama.

Hingga waktu berjalan dan hubungan kita tidak pernah diketahui oleh siapapun. Oh, maksudnya oleh keluarga masing-masing.

Kita memang bukan berasal dari keluarga yang sangat menaati agama. Namun, keluar dari keyakinan itu pun sangat bukan diri kita.

Hingga akhirnya, malam perpisahan itu tiba. Di mana esok ada lelaki lain yang akan mengucap ijab kabul untuk membawaku keluar dari rumah dan mengganti nama belakangku dengan namanya. Lelaki yang akan – dan memang – sangat diterima oleh keluargaku.

Dan sudah lebih dari setahun, semenjak kau tahu tentang kehadiran lelaki itu di antara kita. Kau menghilang.

Namun nyatanya kita bertemu malam ini. Di mana langit masih memuntahkan isinya ke bumi yang berupa butiran uap hari sejak sore hari. Mencuatkan suasana dingin dan beku.

Di antara kepulan asap kuah mie instan di bawah temaram lampu warkop favorit kita. Di antara ketiaknyamananku karena kepedasan akibar cabai rawit hijau yang dipotong kecil-kecil di mie. Tersembunyi dan menyerangku yang tidak kuat pedas.

Aku ribut sendiri karena kepedasan. Hampir menangis sementara kamu tetap bergeming di depanku. Dan aku hanya bisa meringis sendiri menyadari kamu mengacuhkan kehadiranku.

Padalah, di antara semua itu, aku menyembunyikan tangis karena rindu.

Padahal, besok adalah hari bahagiaku – seharusnya.

Tapi, bagaimana aku bisa bahagia jika ternyata orang yang akan mengucap ijab kabul besok pagi adalah bukan kamu, Sayang? Bukan dia yang ada di bayanganku selama ini. Tapi kamu, kamu yang ada di bayanganku untuk bersandingku di pelaminan penuh bahagia dan haru itu.

Ah, salahku. Salahku membayangkan itu kamu padahal kita tahu pasti tentang masa depan hubungan kita.

Dan dalam perpisahan ini, yang ingin kuucapkan bukanlah kalimat perpisahan. Karena itu mungkin akan semakin meninggalkan jejak butir tangis di wajahku. Maka kuucapkan saja kalimat berterima kasih dan cinta. Di mana aku berterima kasih karena diebri kesempatan untuk mencintaimu. Selama ratusan hari ini. Di tengah keraguan kita masing-masing namun tak mengingkari kehadira cinta.

Terima kasih, Sayang. Aku memang memujamu, mencintaimu. Tapi, aku memuja dan mencintai Tuhanku lebih dari apapun.

Rabu, 04 Januari 2012

Tahun Baru Keempat.

Tahun Baru 2011

Pergantian tahun sudah berlalu sangat lama. Kini hari bahkan sudah beranjak pagi. Aku melirik jam yang kembali berdentang, menunjukkan pukul 4 pagi. Dan seharusnya, aku sudah mulai bergerak mengambil air wudhu untuk menunaikan ibadah subuh.

Nyatanya, aku masih enggan beranjak.

Bukan juga karena merasa masih penat setelah membersihkan sisa-sisa acara pergantian tahun. Walau memang hanya perkumpulan keluarga, tapi dengan isi kegiatannya memasak berbagai makanan bagaimana mungkin tidak seru?

Bukan juga karena novel di pangkuan belum tuntas kubaca.

Namun, menyadari ada yang mengganjal di hati dan menyisakan pedih. Bahagia di sana hanya tinggal seujung kuku dari kepedihan yang totalnya setelapak tangan.

Dan aku masih kebingungan bagaimana melenyapkan pedih ini. Pedih karena ketidakmengertianku tentang-nya.

Tentu saja maksud utamaku adalah 'kami'.

Batasan waktu menunggu itu pun sudah lama habis–seharusnya. Namun kalian tahu kan, bahwa menyuruh hati yang enggan berpindah itu sama sulitnya mendiamkan anak bayi yang menangis kencang.

Jadi, aku tetap memilih untuk menunggu dan tidak berpindah - setidaknya untuk saat ini.
Karena cinta - selalu - sanggup mengalahkan segalanya. Bahkan kejenuhanku karena diabaikan. Tepatnya, kepedihan.

Segera, aku meletakkan novel di atas meja belajar dan beranjak dari kasur. Lalu berjalan menuju kamar mandi yang terletak di luar kamarku. Melewati kumpulan saudara sepupu ( generasi ketiga ) dan para tetua generasi kedua yang belum tidur. Enggan melewatkan momentum perpindahan tahun yang selalu berarti baru.

Aku terhenyak. Seharusnya, perasaan dan 'menunggu' ini pun kuperbaharui. Bukan berarti mengganti seluruhnya dan aku tidak boleh 'menunggu'. Namun, objek tujuannya harus kuperbaharui. Bagaimana bisa segala resolusi dan wishlist sanggup kuperbaharui dari tahun ke tahun. Tapi untuk hati, tak pernah?

Ah, lagi-lagi tidak ada jawaban. Sama seperti beribu pertanyaanku tentang-nya. Keberadaanya, keadaannya, bahagianya, sedihnya, hati-nya. Kenapa juga, ia tidak 'pulang' ? Padahal sudah lewat dua tahun - tepat.

Parahnya, tidak pernah ada jawaban lagi. Dan aku, masih dengan bodohnya menunggu ia yang tak ingin pulang dan ditunggu.

Lalu, air wudhu yang menyapa kulit, dingin dan juga menyegarkan. Langsung saja menyadarkanku dari kebodohan.



Tahun Baru 2010

Ada yang hilang.

Satu tahun ini berlalu dengan berbeda… dan aneh. Dengan tidak biasa. Aku merasa seperti orang yang baru pindah rumah – asing dengan segalanya. Padahal, aku tidak pindah ke mana-mana.

Hanya tempatku menuntut ilmu yang berpindah. Tentu saja karena aku sudah lulus sekolah menengah umum dan harus melanjutkan ke perguruan tinggi. Dan aku berhasil masuk ke salah satu perguruan tinggi favorit di Jakarta. Ia–lelakiku–pun mendapatkan kesempatan yang sama. Namun tidak diambilnya karena ada kesempatan lain yang memang lebih menggiurkan. Kuliah di luar negeri. Tentu saja ia memilih yang kedua. Karena baginya, PTN favorit pun nyatanya tetap kurang cukup. Padahal, aku sudah merasa berlebih.

Dan aku tahu pasti apa yang hilang. Aku juga tahu ke mana ia pergi. Tapi mengembalikannya, aku tak pernah tahu.

Ah sudahlah, ia baru saja berlalu kok. Ke negeri seberang untuk masa depannya – yang lalu ia janjikan sebagai masa depan kami. Eh, kenapa aku menyebutnya ‘yang lalu’? seolah aku ragu dan pesimis dengan janjinya.

Apa mungkin, sebenarnya memang begitu?


Tahun Baru 2009

“Kamu bener-bener harus pergi besok?”

Cowok di hadapanku mengangguk lemah. Matanya menghindari tatapan memelasku. Tentu saja, ia takut terlena kembali pada permohonan ‘kecil’-ku untuk menunda keberangkatannya.

Meninggalkan Jakarta, Indonesia. Meninggalkan keluarga dan lingkungannya selama hampir 18 tahun. Juga meninggalkan aku.

Aku menghela napas sambil membuang muka ke pemandangan luar cafe. Pemandangan yang ramai dan indah. Semarak dengan berbagai orang yang lalu lalang. Tak luput di tangan mereka beraneka jenis terompet yang siap ditiup beberapa menit lagi.

Ah, tentu saja. Ini malam tahun baru. Semua orang bersuka cita menghadapi pergantian tahun. Meninggalkan masa lalu untuk menjemput pergantian yang baru. Semua orang – sepertinya – bersuka cita kecuali meja di sudut cafe ini. Tempat di mana aku dan Aldi – pacarku – duduk sejak sejam lalu.

Sejam sebelumnya, kami bersuka cita di antara kumpulan teman-teman Aldi yang juga teman-temanku. Teman-teman SMA terdekat kami. Menyembunyikan sedih di antara beberapa tawa yang tercipta dari acara perpisahan yang dirancang oleh salah satu teman dekat Aldi.

“Kamu percaya aku – kita kan, Ra?” Aldi menatapku lekat sambil menggenggam tanganku di atas meja. Ternyata, yang khawatir bukan hanya saja aku. Aldi pun merasakan gelisah yang sama.

Aku hanya mengangguk. Berusaha memercayai bahwa takdir tidak akan memisahkan aku dan Aldi dengan putusnya hubungan kami yang sudah berjalan lebih dari tiga tahun. Ini hanyalah masa transisi di mana aku dan Aldi yang terbiasa bersama, setiap hari bertemu di sekolah. Dan menghabiskan waktu dengan berbagai kegiatan kami. Menjadi hubungan jarak jauh yang rentan dengan berbagai kendala.

Masa transisi yang selalu tidak mudah dan menyenangkan namun akan selalu ada dalam hidup manusia.

Dan gelisah, selalu akan menyergap. Mungkin aku percaya, tepatnya berusaha memercayai. Namun, keraguan dan ketakutanku akan adanya transisi lain – berpisah sepenuhnya dengan Aldi – adalah mimpi burukku.

Bagaimana jika aku kangen Aldi? Secanggih apapun teknologi jaman sekarang. Berada dalam pelukannya langsung lengkap dengan menghirup wangi Aldi dan merasakan kehangatannya tidak terkalahkan bukan?

I love you. And I’ll always believe in us.


Saat itulah kembang api meledak di kegelapan langit. Menjadi penambah keramaian orang-orang yang bersuka cita malam ini. Ledakan itu begitu ceria dengan warna-warninya. Juga menjadikan ceria setiap orang yang melihatnya.

Di bagian yang lain, ada pula yang meledak-ledak tak karuan. Bedanya, ia tidak berwarna-warni ceria seperti kembang api di langit. Hanya ada satu warna. Hitam yang begitu gelap. Disitulah kegelapan meledak di hatiku.

Ledakan yang semakin mencerai-beraikan rasa tak karuan yang semula berkumpul di sebuah rasa bernama gelisah.

Kini bercerai-berai. Dan membuatku semakin tak karuan.

Ini adalah tahun baru. Semua orang merasakan suka cita. Seharusnya, aku pun begitu bukan?

Tapi, mengetahui bahwa esok adalah hari di mana jarak antara orang yang kaucintai akan melebar dan pastinya akan meninggalkan jejak kangen. Apakah mudah untuk bersuka cita?



Tahun Baru 2012

Semenjak pergantian tahun 3 tahun yang lalu. Malam pergantian tahun selalu berbeda-beda maknanya.

Ada saat di mana malam itu menjadi malam kegelisahanku karena takut kehilangan. Ada juga menjadi malam yang begitu kelam karena masih menunggu dengan bodohnya. Padahal e-mail, chatting, mention, dan komunikasi lainnya semakin berkurang intensitasnya.

Harusnya, saat itu juga aku menyadari tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Karena sudah saatnya aku melepaskan.

Namun, ketika kamu berada dalam kasmaran dan rindu yang meletup-letup. Bagaimana mungkin kan kamu akan berpikir sesimpel itu? Melepaskan. Karena hati akan selalu berusaha menarik kembali jangkarnya. Tetap bersemayam di sana dan tidak kemana-mana.

Karena, ada hal lain yang selalu tidak bisa menunggu dan dikontrol. Hal lain itu bernama rindu yang lebih menggugat daripada cinta.

Dan rindu memang selalu membuatku kembali. Lalu, menunggu dengan indahnya. Karena hanya cukup membayangkan rindu yang akan disapa oleh sang objek.

Padahal, inilah hidup. Ada yang datang dan pergi. Siklus selalu berganti dan aku – kita harus selalu sedia.

Ya... kenyataannya memang tidak semudah itu. Tapi, berlarut-laurt dalam kesedihan pun tidak baik.

Karena, ketika aku sudah rela. Aku menemukan pintu kebahagiaan lain. Lebih sederhana, tapi pasti dan ada. Tidak seperti Aldi yang selalu istimewa dan menawan, namun seakrang sangat sulit ditebak.

“Ngelamun, mulu!” aku tergelak menyadari gerakan lembut di ubun-ubun kepala. Mengacak-acak rambutku.

Aku merengut. Bukannya meminta maaf, ia malah tertawa.

Lalu, ia menarik kedua tanganku hingga semakin erat di dalam genggamannya. Dan bibirku pun langsung tertarik ke atas, sedikit-sedikit, tersipu karena melihat tawanya yang begitu menentramkan.

Dan, kembang api di langit gelap pun meledak. Seperti biasa, keindahannya menularkan kekaguman dan keceriaan untuk setiap orang yang menatapnya.

Namun kali ini aku merasa lebih dari itu.

Kembang api dengan berbagai warna seperti meledak di hatiku. Kali ini bukan warna gelap yang meresahkan. Namun, menentramkan.

Lalu kukecup jemarinya yang menggenggam tanganku dan langsung kunikmati wajahnya yang tersenyum.

Kami ada untuk bersimbiosis mutualisme dengan satu hal – cinta.

Sabtu, 24 Desember 2011

[REVIEW] Manusia Setengah Salmon - Raditya Dika

Siang-siang, gue dapet mention dari temen gue yang seorang pembaca Raditya Dika, Ratih Febrina alias Dira. Lengkap dengan twitpic-nya bersama Manusia Setengah Salmon. Dan langsung aja gue iri berat. Karena gue yang pre order dari 2 minggu lalu belum megang. I envy you, Dira!

Tapi kemudian keirian itu hilang ketika sore-sore datang paket buat gue yang ternyata dari Buka Buku. Tempat di mana gue pre order MSS (dan emang karena BukaBuku adalah tokbuk online langganan gue). Akhirnya, keirian gue lengkap dengan rencana 'mamer' balik ke Dira. Karena MSS gue lengkap dengan ttd Raditya Dika-nya *narihulahup*

And yes, I'm waiting for this book too much. Karena gue kangen dengan tulisan penuh drama dibalut dengan komedi yang nggak akan bisa bikin lo berhenti ngakak. Tapi lengkap dengan filosofi yang akan membuat lo berhenti sejenak, tercenung, lalu bergumam, "Iya yah…" "Hem… bener banget.", dsb.

Itulah yang gue dapet semenjak baca MMJ.
Bacaan gue dari dulu adalah novel-novel drama semacam teenlit, metropop. Jadi, ketika dulu Kambing Jantan keluar dengan komedinya yang berasal dari blog. Gue nggak begitu heboh dan ngebet pengen beli (tapi tetep baca hasil minjem :p )sekalipun digemborin sama temen-temen. Tapi, begitu baca MMJ. Gue langsung berjanji dalam hati, akan beli buku bang Dika selanjutnya!

MMJ dan MSS sama-sama novel komedi bang Dika yang penuh filosofi manis ataupun ngiris tangan saking bikin galaunya tentang cinta. Bedanya MMJ itu tentang orang yang jatuh cinta. Sedangkan MSS tentang kebalikannya, patah hati dan pindah.

Yang paling nggak gue sangka adalah ternyata cerita tentang 'Pindah' yang dulu pernah gue baca pertama kalo di sebuah web dimasukin ke MSS. Tentunya dengan perubahan sana-sini yang membuat cerita 'Pindah' ini lebih baru dan menarik. Dihadirkan dalam chapter yang berbeda, yaitu 'Sekeping Hati di Dalam Kardus Cokelat' dan 'Mencari Rumah Sempurna'.
Membaca Sekeping Hati di Dalam Kardus Cokelat selalu (karena dulu gue pernah baca versi 'Pindah'-nya) membuat hati ikut mewek sekalipun lo lagi bahagia bahagia aja. Seolah-olah ikut patah hati sama bang Dika yang abis diputusin ceweknya.

Terutama pas adegan Leonardi di Caprio bilang ke Kate Winslet, 'You jump, I jump'. Pada saat adegan itu, mungkin gue bakal menjerit, 'Kenapa kamu gak jump juga kayak Leonardo, Sayang? Kenapa kamu malah jump sendirian?' (halaman 26)

Mungkin itu masalahnya, pikir gue. Seperti rumah ini yang menjadi terlalu sempit buat keluarga kami, gue juga menjadi terlalu sempit buat dia. Dan, ketika sesuatu sudah mulai sempit dan tidak nyaman, saat itulah seseorang harus pindah ke tempat yang lebih luas dan (dirasa) cocok untuk dirinya. Rumah ini tidak salah, gue dan dia juga tidak salah. Yang kurang tepat itu bila dua hal yang dirasa sudah tidak lagi saling menyamankan tetap dipertahankan untuk bersama. (halaman 29)

Tapi tenang, Raditya Dika adalah Raditya Dika. Jadi lo nggak akan sepenuhnya 'galau' dengan baca MSS. Porsi ketawa ngakak lo pasti akan lebih banyak dibanding dengan 'ikutan mewek' karena kalimat filosofi tentang cinta dari bang Dika.

Bahkan, baca 'Prakata'-nya aja udah bikin gue ketawa ngakak plus jadi langsung ngebayangin Edgar yang (emang jadi) cakep (♥͡⌣♥͡)

Ada cerita konyol bang Dika di 'Kasih Ibu Sepanjang Belanda' karena kenalan dan berteman baik dengan temannya selama ngikutin summer course di Belanda selama dua minggu. Di mana nama temen itu adalah… 'Perek'. Yes, Perek. Dan dia adalah mahasiswa dari Praha. (Gue nggak tahu gimana cara nyebutin namanya yang bener. Tapi sumpah, ngebayangin artinya di sini – Indonesia –tapi malah dijadiin nama untuk orang Praha itu bikin ngakak. Jadi wondering artinya apa ya?)

Dan di 'Tarian Musim Kawin', ada Trisna yang ngebet pengen punya pacar karena nggak mau jadi jomblo perak ( belum pernah pacaran sampe umur 25 tahun ). Lalu kenalan sama cowok via twitter yang charming. Yang sangat Trisna inginkan tapi ternyata nggak jadi juga. Entah karema apa.
Ditutup dengan twit Trisna yang berasal dari quote Mick Jagger yang berbunyi, "You can't always get what you what, but if you try, sometimes you just might find you get what you need."

Juga ada 'Bakar Saja Keteknya' dan 'Pesan Moral dari Sepiring Makanan'. Tulisan yang sumpah bikin ngakak tapi terselip rapih filosofi dan pesan manis dari cerita-cerita konyol nan bikin ngakak itu.

Dan, kalau MMJ ditutup oleh 'Marmut Merah Jambu' dengan filosofi manis Marmut untuk orang yang jatuh cinta. Maka, MSS ditutup oleh 'Manusia Setengah Salmon' dengan filosofi… (apa ya tepatnya? Galau? Wise? Atau apa?) tentang orang-orang yang ber-pindah. Entah tumbuh dewasa, berubah peran dari yang cuma 'anak biasa' jadi 'orang tua', atau mungkin ber-pindah hati.

Jadi, kalau kamu pembaca Raditya Dika dan belum beli atau bahan baca MSS tentu aja rugi!
Silahkan beli di toko buku terdekat dengan harga 42000 rupiah untuk 258 halaman. Atau pesan di toko buku online untuk dapetin diskon 15% ;)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Jumat, 16 Desember 2011

[REVIEW] Stila-Aria. 1 "Sahabat Laut"


Ini adalah cerita tentang Aria Syadiran,
Tentang masa remaja yang seringkali membingungkan, nggak menentu, nggak sreg, namun ‘gila' fun -nya, serta penuh haru sedihnya. Rasa pertama akan cinta pertama, rasa pertama akan benci dan kangen yang—anehnya—datang bersamaan dan terasa saling bertubrukan. Serta rasa penasaran dalam menentukan: “Apakah dia sahabat saya, atau lebih dari itu?”

Dan teman-teman di SMP Pelita Bangsa.
Aria
yang punya sudut pandang unik dalam melihat sesuatu, namun juga ‘pedas' dan sangat peduli lingkungan adalah magnet bagi sekolah barunya. Bagi Jamie, si peranakan Indonesia-Australia yang merasa punya cap ganteng di jidatnya sehingga senang melecehkan sesuatu. Musa, yang sering krisis identitas karena ‘keberatan nama' dan bosan jadi bayang-bayang Jamie sejak TK. Ayumi, si kapten cheerleader yang menganggap jadi cantik dan populer adalah segala-galanya. Kui, yang risih dengan tubuh gemuknya dan berharap bisa skinny kayak Ayumi.Didun, yang berusaha keras melebur dengan Jakarta walau sering homesick ama Kebumen. Serta Izar, si misterius yang benci ketidakadilan—namun sangat mengerti akan masa lalu Aria.


Stila Aria.1–Sahabat Laut diterbitkan oleh Terrant Books pada 2007. Sayangnya, serial kedua dari cerita Stila-Aria ini sangat lama terbitnya. Dan dari akun @sittakarina dikabarkan bahwa serial kedua dari cerita ini akan terbit pada awal 2012, tepatnya bulan Januari. Jadi ya, kita yang membaca Stila-Aria.1 di tahun 2007-2008 (seperti gue) sangat lama menunggu kelanjutan kisahnya, 4-5 tahun L

Semoga aja nggak mundur lagi tanggal terbitnya ya. Karena, gue sungguh sangat menunggu lanjutan kisah ini!

Dan, karena info dari @sittakarina tersebut. Di mana kemarin (17 Desember 2011), Sitta Karina kembali twitpic cover Stila-Aria.2 ‘Kincir-kincir Hati’.


Gue jadi kepikiran lagi sama buku ini dan teringat (kayaknya) belum pernah review novel ini. Jadi, inilah review gue J

Why do I love Stila Aria?

Alasan utama adalah karena karakterisasi di Stila Aria ini kuat. Ada Aria yang idealis dan canggung sama bangsa dan bahkan keluarganya sendiri. Karena malah besar di Amerika, bukan Indonesia. Dan tinggal dengan bibinya, buka keluarga aslinya ( orang tua dan adik).

Lalu ada Jamie yang 'nyadar' dirinya keren abis karena keturunan Indo dan dari keluarga berada. Tapi baik sama temen-temen deketnya, walau terkadang 'sok' abis sama orang-orang baru. Ada Musa, yang nggak PD dengan namanya sendiri: ‘Musa’ yang berasal dari salah satu nabi karena kelakuannya nggak ada mirip-miripnya sama nabi (menurut dia). Dan bisa jadi ‘charming’ sama Aria. Ya, karena Musa ini ada chemistry dan ketertarikan sendiri sama Aria yang malah nggak berpikir tentang percintaan.

Tokoh lain yang oke itu, Didun. Anak baru dari ‘kampung’ yang malah menyimpan sejuta rahasia keren dalam dirinya. Pinter, nggak usaha ditanya karena dia anak beasiswa. Tapi jago renang? Nggak pernah ada yang nyangka. Karena bahkan Didun jago renang karena sering renang langsung di pantai yang deket rumahnya.

Dan sederet tokoh lainnya yang menakjubkan dalam dunia remaja.

Selain itu, konflik yang ada di dalam Stila Aria emang ‘remaja’ banget.

Permasalahan cinta Aria sama Nanda, senior dan ketua OSIS yang ngedeketin Aria ‘cuma’ karena ngelihat Aria sebagai ‘aset’ yang berharga untuk OSIS. Tapi malah jatuh cinta dan deket sama adiknya Aria, Alissja yang menderita penyakit. Gimana kesel-nya Aria karena itu. Dan yang selanjutnya mempengaruhi keputusan Aria atas tawaran Nanda untuk gabung sama OSIS.

Yang paling utama sih, persahabatan Aria-Jamie-Musa yang oke banget. Mereka sama-sama mengerti dengan batasan privacy masing-masing, kalau-kalau aja emang ada sesuatu yang menjadi rahasia sekali. Contohnya, Aria yang nggak cerita tentang siapa itu Adam. Sampe akhirnya muncul Izar. Dan menguaklah cerita cinta Aria di masa lalu.

Konflik yang paling nggak bisa gue lupain sih karena ‘ngena’ banget, konfliknya Aria sama keluarganya. Ketika kamar Aria dan Alissja direnovasi dengan tujuan: mempersempit kamar Aria dan memperluas kamar Alissja. Permasalahan yang Aria rasa, bukan masalah ‘mempersempit dan memperluasnya’. Tapi, karena Aria nggak pernah ditanya bahkan diberit tahu tentang masalah renovasi ini. Aria nggak pernah ditanya, “Apakah Aria keberatan dengan rencana Ibu?” oleh salah satu anggota keluarganya. Dan gimana Aria ngerasa kesel karena nggak merasa dianggap kehadirannya di keluarga itu.

Untuk pecinta teenlit ataupun pembaca Sitta Karina. Stila-Aria adalah buku yang harus lo baca! Sama sekali nggak kalah keren dari kisah Hanafiah kok. Karena Stila-Aria seperti menghadirkan kembali nuansa remaja ABG.

*Sneak Preview Stila-Aria.2 bisa dibaca di sini ;)

Kamis, 15 Desember 2011

I will

Beberapa kali, gue mengalami kejadian nggak seru karena ekspektasi atau gregetan yang berlebih.

Sebut saja ketika beberapa buku baru terbit dari penulis favorit gue atau film yang ditulis oleh scriptwriter favorit gue. Dan gue sudah terlalu ‘excited’ untuk baca atau nonton. Tapi nggak jadi-jadi *glek*

Katakanlah satu kali, ketika ekspektasi gue melampaui batas karena membaca sinopsis yang keren. Dan ternyata, setelah gue baca – well, I’m sorry to say, bukunya ternyata nggak seseru sinopsisnya.

Adapun ketika excited gue udah melampaui batas. Ketika gue belum juga beli novel atau sempet nonton filmnya. Tapi udah kebanyakan dapet review bagus sana-sini dari TL twitter dan hasil blog-walking. Keseruan dan rasa greget gue udah lenyap. Padahal film dan novelnya bener-bener bagus.

Hal ini, sangat gue inget, terjadi pada Madre dan Sang Penari.

Gue nggak bilang novel dan film itu jelek. Sangat gue akuin bagus. Tapi ya itu, dalam benak gue ‘wah, emang bagus ya.’ Dan udah nggak ada hasrat lagi untuk membahas atau ngerekomin karya tersebut ke temen-temen. Karena ya mungkin, gue udah terlalu berkoar-koar sebelumnya – sebelum gue baca atau nonton filmnya sendiri.

Rasa gregetannya udah hilang karena kelamaan ‘nunggu’ untuk beli dan baca novelnya atau nonton filmnya. Rasa gregetan, harunya udah abis ketika gue kebanyakan baca review bagus sana-sini dari orang-orang di dunia maya.

Sekali lagi gue seolah belajar dan diingatkan. Nggak boleh mempunyai ekspektasi terlalu tinggi. Juga keinginan atau hasrat untuk ‘memiliki’ yang melampaui batas. Karena kalo nggak dapet atau nggak sesuai harapan, lo pasti kecewa. Atau, kalo keinginan dan hasrat lo melampaui batas. Ketika lo mendapatkannya walau dengan susah payah, rasanya malah jadi hambar. Gitu aja. Nggak ada kebahagiaan yang berkepanjangan.

Jadi, untuk kedua orang spesial yang udah memberikan gue inspirasi dan semangat luar biasa selama ini. I’ll let you go. Tepatnya, membiarkan kalian pergi dari ‘wish list’ hidup gue *nyengir*

Karena gue sadar, ekspektasi gue selama ini udah melampaui batas. Begitu pun dengan keinginan gue untuk mendapatkan hati kalian.

Karena gue bisa menebak, kalaupun suatu hari semua harapan gue jadi nyata. Gue mungkin malah akan kecewa, atau nggak se-bahagia perkiraan gue.

Alasan yang konyol mungkin. Karena gue menerapkan satu teori kecil yang gue alamin untuk urusan hati.

Tapi untuk kalian, silahkan, jika kalian ingin pergi, pergi-lah J

Selasa, 29 November 2011

Sebelum Pulang.

"Aku butuh kamu malam ini. Untuk menggenggam cinta dan memeluk rindu. Melenyapkan gelisah. Beberapa saat saja, Sayang. Sebelum kau pulang ke dalam pelukannya." - @27bercerita
Powered by Telkomsel BlackBerry®