Dan itu selalu aja terjadi sama saya. Banyak dari novel GagasMedia yang dari sinopsisnya udah ‘nyedot’ imajinasi dan kenangan #abaikan.
Dan dari sekian banyak yang udah saya baca. Kali ini mau me-review Let Go-ny Windhy Puspitadewi.
Kelebihan utama yang saya kagumi dari novel ini adalah karakterisasi yang kuat. Sehingga karakterisasi ini sangat mendorong konflik dan solusi dalam cerita. Well, saya emang belum baca novel Kak Windhy yang lainnya, jadi emang nggak tahu apakah Kak Windhy melakukan ini di novelnya yang lain atau Let Go aja. Semoga sih di semua novelnya J
Awal baca, jujur saya agak bĂȘte karena bahasanya yang kerasa terlalu baku dan nggak ngalir. Tapi terus saya baca karena itu tadi, saya penasaran sama konflik yang akan ada dalam novel ini karena menyadari bahwa karakterisasinya kuat.
Ada Caraka, anak kelas sepuluh yang baru masuk empat bulan dan udah berantem selama empat kali. Menariknya, dia orang yang ‘suka’ ikut campur urusan orang tanpa peduli sama pendapat orang lain.
Lalu Nathan, si ganteng, tajir, dan jenius yang ‘dingin’ sama sekitar. Sinis dan tegas dengan pendiriannya. Tapi nyatanya, di balik semua sikap dinginnya. Dia perhatian dan baik… banget.
Juga ada Nadya, ketua kelas yang ‘mandiri’ banget. Termasuk siswi yang aktif di sekolah; OSIS, klub judo, majalah sekolah, dan lainnya. Hingga dipandang sama temen-temen cowoknya sebagai cewek maha sempurna tapi nggak perlu untuk ‘dimilikin’. Karena para cowok ngerasa, berada di samping Nadya mereka tidak akan dibutuhkan karena kemandirian cewek ini. Sedangkan ego para cowok, pengen jadi ‘shelter’ bagi ceweknya.
Dan nggak lupa, ada Sarah yang lembut dan nggak bisa ‘menolak’. Hingga kebaikannya ini dimanfaatin sama lingkungan sekitar yang lama-kelamaan merugikan dirinya sendiri.
Caraka, sengaja ‘dimasukkan’ ke tim majalah sekolah, Veritas, oleh wali kelasnya Bu Ratna. Digabungkan dengan ketiga teman sekelasnya di mana mereka semua nggak pernah akur – pada awalnya. Tapi Bu Ratna bilang ke Raka, bahwa beliau memasukkannya ke Veritas bukan karena tanpa alasan. Tapi ada hidden agenda di dalamnya. Dan ini membuat Caraka sendiri heran dan kebingungan. Begitu juga dengan kita – pembaca.
Hingga akhirnya, saya mulai melupakan kebetean tadi dan mulai menikmati novel ini di bab dua. Dan percayalah, kalian nggak akan nyesel bacanya sampe akhir. Karena akan kalian temukan banyak hal-hal simpel tapi ‘ngena’ dalam kehidupan sehari-hari J
Beberapa bagian favorit yang mau saya share adalah:
1. Hal. 137
“… kamu emang terlalu baik, Ka,” desah Nadya. “Pantas aja hampir semua cewek di kelas suka kamu.”
“Hah?”
“Kamu nggak tahu, ya?”
“Nggak ada yang pernah ngomong ke aku.”
Nadya memutar bola mata. “Tentu aja mereka malu, tolol. Mereka nunggu kamu ngomong duluan.”
“Tapi, aku kan nggak cakep, nggak pinter, nggak keren,” ujar Caraka masih tak percaya dan sedikit minder. “Apanya yang bisa disukai?”
“Karena kamu nggak sadar kalau kamu keren itulah kamu jadi sangat keren,” jawab Nadya.
Ya, di bagian ini sangat diperjelas dan mempertegas deskripsi Caraka dari sebelumnya. Bagaimana istimewanya cowok itu dengan kesederhanaannya. Dan ini jadi magnet tersendiri untuk para cewek, temen sekelasnya.
Tanpa kita sadari, seringkali kita emang jatuh cinta CUMA karena hal-hal sederhana kayak gini lho… ;)
2. Hal. 138-139
“Tapi gimana kalau yang terperangkap adalah ulat yang belum jadi kupu-kpu? Orang tetap nolong, nggak? Padahal keduanya sama. Di dunia ini, memang harus cantik supaya ditolong.”
…
“Emangnya ada yang kayak gitu? Kenapa harus cantik biar ditolong? Nggak masuk akal! Dangkal banget!”
Nadya tersenyum. “Ini yang kumaksud.”
“Hah?”
“Itu yang bikin kamu disukai cewek-cewek,” kanjutnya. “Kamu nggak pernah milih antara ulat dan kupu-kupu.”
Bagian ini emang nggak terlalu penting untuk ceritanya sih. Tapi sekali lagi, adanya bagian ini memperjelas keistimewaan Caraka di mata orang lain, khususnya para cewek. Di samping itu, ini adalah hal ‘kecil’ yang sering terjadi di sekitar kita tapi nggak kita sadarin. Tapi saya sih, pernah ngerasa hal ini beberapa kali terjadi karena ‘diskriminasi’ ini. Semoga tobat yah orang-orang yang nolong cuma untuk kaum ‘kupu-kupu’. Karena kita semua ini samaaaa :))))
3. Hal. 140
Dada Caraka bergemuruh. Akhirnya dia sadar kenapa tadi mati-matian menghafalkan semua lagu Mozart. Dia ingin bisa menikmati apa yang dinikmati oleh Nadya. Menyukai apa yang disukainya, tertawa bersamanya, tersenyum bersamanya. Dia sadar dia telah jatuh cinta.
Bagian ini, pertama kalinya Caraka sadar bahwa ia jatuh cinta sama Nadya. Ya, Nadya si cewek mandiri yang ternyata asik banget untuk jadi tempat ngobrol. Dan di smaping Nadya inilah, Carak ngerasa ‘lepas’ dan seneng banget. Hingga melakukan beberapa hal kecil sederhana untuk ‘menyentuh’ cewek itu.
Ini bener-bener sweet lhoo :’)
4. Hal. 195
…
Caraka menarik tangan Nadya dan menggenggamnya, mencoba mencairkan suasana.
“Ini sudah cukup,” kata Nadya tiba-tiba.
Caraka menghentikan langkahnya dan menoleh, wajah Nadya memerah.
“Ini saja sudah cukup,” ulangnya. “Aku udah bisa merasakan perasaanmu.”
Jantung Caraka serasa berhenti untuk beberapa saat.
Ternyata, emang hanya sesederhana ini, batinnya. Nggak perlu ciuman, pelukan, nyanyian, atau puisi. Kalau kamu menyukai seseorang dengan sangat, tindakan kecil seperti ini saja sudah cukup mewakilinya.
Ini juga sweet bangeeeet :’)
Dibaca aja deh untuk tahu kenapa bagian ini ‘sweet’ ;)
Dan nggak ketinggalan, bagian Caraka 'nembak' Nadya!
Di mana Nadya blak-blakan bilang dia patah hati sebelumnya. Dan Caraka yang ngerasa deg-degan lalu lega ketika Nadya bilang tentang perasaannya ke Caraka.
"Ternyata, merasa senang dan lega dalam satu waktu cukup menguras energi," katanya. (Hal. 193)
Pokoknya, Let Go akan membuatmu tersenyum kecil, haru, dan tertawa sendiri dengan hal-hal simpelnya. Paling lucu itu, kalo Caraka lagi 'debat' sama Nathan tentang rasa peduli mereka yang sama-sama udah lewat batas satu sama lain.